Pengunjung

Sabtu, 19 Oktober 2013

RENAISANS JAWA

Sastra Jawa Baru muncul dengan kemasukan agama Islam di pulau Jawa dari Demak antara abad 15 - 16 Masehi.

Dengan masuknya agama Islam, orang Jawa mendapatkan ilham baru dalam menulis karya sastera mereka. Maka pada masa-masa awal, zaman Sastrra Jawa Baru, banyak pula digubah karya-karya sastra mengenai agama Islam. Suluk Malang Sumirang adalah salah satu yang terpenting.

Gaya bahasa pada masa-masa awal masih mirip dengan Bahasa Jawa Tengahan. Setelah tahun ~ 1650 Masehi, bahasa Jawa gaya Surakarta menjadi semakin dominan. Setelah masa ini, ada pula renaisans Sastra Jawa Kuna. Kitab-kitab kuna yang bernafaskan agama Hindu-Buddha mulai dipelajari lagi dan digubah dalam bahasa Jawa Baru.

Sebuah jenis karya yang khusus adalah karya sastra yang disebut babad. Karya ini menceritakan sejarah. Jenis ini juga didapati pada Sastra Jawa-Bali. Dari semua sastra tradisional nusantara, sastra Jawa adalah yang paling berkembang dan paling banyak tersimpan karya sastranya. Tetapi setelah proklamasi Republik Indonesia, tahun 1945 sastra Jawa agak dianaktirikan karena di Negara Kesatuan RI, kesatuan yang diutamakan.

Bahasa Jawa mula-mula ditulis dalam aksara turunan yaitu tulisan pallava yang bersal dari India Selatan. Aksara inilah yang menjadi cikal-bakal aksara Jawa modern atau Hanacaraka yang masih dipakai sampai sekarang. Lalu dengan berkembangnya agama Islam pada abad ke 15 dan 16, huruf arab juga dipergunakan untuk menulis bahasa Jawa, huruf ini disebut dengan huruf pegon. Kemudian dengan kedatangan orang-orang Eropa ke Jawa, huruf Rumi mulai digunakan untuk menulis bahasa Jawa.

Ketika kekuasaan Jawa pindah ke pedalaman (Pajang & Mataram) yang pengaruh Islamnya tidak sekuat di Pesisir Utara (Demak, Cirebon, Banten), maka mulai berkembang penggunaan ‘Aksara Carakan’. Pada pemerintahan Sultan Agung ‘Aksara Carakan’ resmi digunakan dalam pemerintahannya. Termasuk penetapan Kalender Jawa yang berlaku hingga sekarang ini juga dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Agung. Maka secara samar-samar bisa dikatakan bahwa pada masa Sultan Agung tersebut dimulainya ‘renaissance Jawa’.

Kebangkitan Jawa masa Sultan Agung semakin berkembang dan mencapai puncaknya ketika jaman Kapujanggan di Kasunanan Surakarta Hadiningrat. ‘Pemberontakan’ Jawa terhadap pengaruh-pengaruh budaya asing (Hindu, Buddha, Islam) terekspresikan dengan lugas melalui karya-karya para pujangga tersebut. Media penyebarannya menggunakan ‘tembang-tembang’ yang ternyata sangat efektif bisa mencakup ke pelosok-pelosok desa. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat bawah Jawa masih belum tersentuh oleh ‘bahasa pemersatu’ dari wangsa-wangsa yang pernah berkuasa.

Berawal dari ‘kebangkitan’ Jawa pada masa Kapujanggan inilah terjadi semacam ‘rivalitas’ ajaran (filosofi) Jawa dengan ajaran agama (Islam). Kepentingan-kepentingan politik penjajah Belanda ikut bermain hingga mempertajam ‘rivalitas’ tersebut. Maka di masa ini ikut lahir dan berkembang Kejawen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar