Pengunjung

Sabtu, 19 Oktober 2013

RENAISANS JAWA

Sastra Jawa Baru muncul dengan kemasukan agama Islam di pulau Jawa dari Demak antara abad 15 - 16 Masehi.

Dengan masuknya agama Islam, orang Jawa mendapatkan ilham baru dalam menulis karya sastera mereka. Maka pada masa-masa awal, zaman Sastrra Jawa Baru, banyak pula digubah karya-karya sastra mengenai agama Islam. Suluk Malang Sumirang adalah salah satu yang terpenting.

Gaya bahasa pada masa-masa awal masih mirip dengan Bahasa Jawa Tengahan. Setelah tahun ~ 1650 Masehi, bahasa Jawa gaya Surakarta menjadi semakin dominan. Setelah masa ini, ada pula renaisans Sastra Jawa Kuna. Kitab-kitab kuna yang bernafaskan agama Hindu-Buddha mulai dipelajari lagi dan digubah dalam bahasa Jawa Baru.

Sebuah jenis karya yang khusus adalah karya sastra yang disebut babad. Karya ini menceritakan sejarah. Jenis ini juga didapati pada Sastra Jawa-Bali. Dari semua sastra tradisional nusantara, sastra Jawa adalah yang paling berkembang dan paling banyak tersimpan karya sastranya. Tetapi setelah proklamasi Republik Indonesia, tahun 1945 sastra Jawa agak dianaktirikan karena di Negara Kesatuan RI, kesatuan yang diutamakan.

Bahasa Jawa mula-mula ditulis dalam aksara turunan yaitu tulisan pallava yang bersal dari India Selatan. Aksara inilah yang menjadi cikal-bakal aksara Jawa modern atau Hanacaraka yang masih dipakai sampai sekarang. Lalu dengan berkembangnya agama Islam pada abad ke 15 dan 16, huruf arab juga dipergunakan untuk menulis bahasa Jawa, huruf ini disebut dengan huruf pegon. Kemudian dengan kedatangan orang-orang Eropa ke Jawa, huruf Rumi mulai digunakan untuk menulis bahasa Jawa.

Ketika kekuasaan Jawa pindah ke pedalaman (Pajang & Mataram) yang pengaruh Islamnya tidak sekuat di Pesisir Utara (Demak, Cirebon, Banten), maka mulai berkembang penggunaan ‘Aksara Carakan’. Pada pemerintahan Sultan Agung ‘Aksara Carakan’ resmi digunakan dalam pemerintahannya. Termasuk penetapan Kalender Jawa yang berlaku hingga sekarang ini juga dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Agung. Maka secara samar-samar bisa dikatakan bahwa pada masa Sultan Agung tersebut dimulainya ‘renaissance Jawa’.

Kebangkitan Jawa masa Sultan Agung semakin berkembang dan mencapai puncaknya ketika jaman Kapujanggan di Kasunanan Surakarta Hadiningrat. ‘Pemberontakan’ Jawa terhadap pengaruh-pengaruh budaya asing (Hindu, Buddha, Islam) terekspresikan dengan lugas melalui karya-karya para pujangga tersebut. Media penyebarannya menggunakan ‘tembang-tembang’ yang ternyata sangat efektif bisa mencakup ke pelosok-pelosok desa. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat bawah Jawa masih belum tersentuh oleh ‘bahasa pemersatu’ dari wangsa-wangsa yang pernah berkuasa.

Berawal dari ‘kebangkitan’ Jawa pada masa Kapujanggan inilah terjadi semacam ‘rivalitas’ ajaran (filosofi) Jawa dengan ajaran agama (Islam). Kepentingan-kepentingan politik penjajah Belanda ikut bermain hingga mempertajam ‘rivalitas’ tersebut. Maka di masa ini ikut lahir dan berkembang Kejawen.

* CERKAK KADHO SAKA GUSTI *

Ing tengahe wengi, langite padhang saha rembulan lan lintang sinare tansah nentremake ati ipun Wita. Rasa pasrah gumantining nasib ketanem ing jroning ati, saben wengi lan mangkat sekolah Wita nulis pangarepan dumateng Gusti Allah, amergi kedadehan ingkan nemahi awakipun kepingin numpak motor wondene kaya konco-konco ananging wanci nyobak mboten matur kalian Bapak lan Ibu kedadosane awan peteng,langit mendhung saha gludhug nekaaken udan saya deres sanget, dumadahan trek ingkang ngemot blabag papangan karo Wita.

Kirang ngati-ati tudhone Wita diparingi musibah, lengen disemen lan sikil diamputasi. Rumangsaning ati, kanca-kanca sing maune raket mbaka setunggal padha ngadohi Wita, mboten purun srawung kalian tiyang cacad. Nanging Bapak,Ibu lan Mas Doni tansah maringi semangat, rasa welas asih dening Wita supados saged diparingi kasabaran. ana ing perjalanan menyang sekolah Wita banjur ngetoake kertas lan nulis,

“…Dhuh Gusti, kula pengin ngadhah sikil palsu supados mboten ngrepotake Bappak,Ibu lan mas Doni ingkang saben enjang kedah ngeteraken kula dheteng sekolah…” .

Mpun mancik telung sasi, Wita melbet sekolah,nanging dinten sabtu niki benten, mas Doni mboten muruki kangge ngeterake sekolah. Nyataipun mas Doni nyuwunake dateng pak Kepala Sekolah yen tumpraping sikil Wita ajenge diukur sikil palsu. Mboten dinyono sing numbasake lan ingkang mbiyayai rumah sakit sakmenika Retno Sriningsih rencang sekelas Wita, Retno kagugah ati ipun sak wancine tinemu kertas ingkang panyuwun sikil palsu. Sesasi punjul seminggu sak wancine diukur sikil palsu lagi teko, pengarepan Wita dikabulake marang Gusti Allah lajeng saged mlampah malih.

Tema: Gegayuhan andueni sikil palsu

Amanat:

#Supados tansah ileng marang Gusti ing kahanan napa kemawon.

#Tansah ngati-ati menawi nyambut damel.

#Tanamake panyono ingkang sae mring sedayaning manungsa.

#Sabar lan ikhlas menawi gadha perkawis ingkang ewet.

#Menawi mbiyantu sederek, mboten usah milih-milih.

#Niat kanthi do’a lan usaha tumekane bakal methik hasil ipun.

Foklor “Wewe Gombel”

Di desa Suka Maju Kecamatan Suka Mundur Kabupaten Makmur, 60 tahun yang lalu ada seorang anak bernama Sukini yang berusia sekitar 12 tahun. Ia adalah anak ruju dari bapak Kartasan dan ibu Sarimi. Ibu dan bapak dari Sukini adalah seorang petani yang setiap hari bekerja giliran disawah belakang desa dan didesa sebelah (banjar omah njoboh).

Pada suatu malam, disaat ibu Sarimi dan pak Kartasan akan pergi ke sawah di belakang desa untuk jaga sawah agar tidak dimakan tikus, Sukini telah diberi pesan apabila ibu dan bapaknya belum pulang kerumah, ia tidak boleh untuk keluar rumah dan sukini pun mengangguk tanda mengerti dengan apa yang dikatakan oleh ibu dan bapaknya. Setelah satu jam kemudian, tidak disangka ibunya Sukini kembali pulang kerumah sendirian dengan alasan akan mengajak Sukini ke sawah belakang desa, Sukini pun kaget mendengarnya karena tidak biasanya ibunya mengajak Sukini untuk pergi kesawah malam hari.

Tidak disangka karena sebenarnya yang kembali kerumah adalah wewegombel yang menampakkan diri (ngembo) sebagai ibu dari Sukini. Wewe tersebut mengajak pergi Sukini dengan berjalan terus selama kurang lebih 2 jam. Sukini pun bertanya terus kepada wewe karena sebenarnya jarak antara rumah dengan sawah belakang rumah jaraknya tidak terlalu jauh dan jawab dari wewe tersebut “hus, menengo engko lak teko panggone to nduk”. Sukini menurut kepada wewe yang berwujud seperti ibunya itu. Dan dalam perjalanan ada orang yang melihat Sukini berjalan sendiri dan tidak melihat wewe yang menyerupai ibu Sarimi disebelahnya.

Setelah lama berjalan, Sukini diajak menyeberangi Rawa yang kedalamannya mencapai 7 meter tetapi tidak ada perahu didaerah tepi Rawa (Lak gedhe), sehingga wewe tersebut menyuruh sukini untuk menutup matanya dan tidak boleh membuka mata selagi belum disuruh oleh wewe tersebut.

Ternyata, ketika menutup mata sukini menyeberangi Rawa dengan cara disembunyikan wewe dibalik payudaranya sehingga Sukini dengan tidak sengaja berjalan diatas air rawa yang sejatinya tidak bisa dilihat dengan kasat mata.

Dalam perjalanannya, Sukini selalu bertanya kepada wewe tentang kelanjutan cerita yang biasanya diberikan oleh ibu Sarimi tentang wewegombel yang suka mengganggu dimalam hari, ketika sukini bertanya, raut muka wewe langsung berubah menjadi marah. Sesampainya diseberang Rawa Sukini merasa lapar, disuruh duduklah dan wewe pun mengambil ikan di Rawa tanpa menggunakan alat. Sukini terheran-heran dengan apa yang dilihatnya, ibu yang dikenalnya bisa untuk menangkap ikan dengan disuruh untuk mengucapkan “yang aying adeng ngowo” selama 5x dengan menutup mata ikan tersebut telah tersaji matang. Sukini pun heran tapi tidak dirasa karena perutnya lapar dan dimakan saja ikannya.

Sesampainya ibu dan bapak sukini dirumah ternyata dilihat Sukini tidak ada, dicari seketika itu karena semalam suntuk Sukini tidak pulang kerumah. Ibu Sarimin dan bapak Kartasan mencari di tempat biasanya ia bermain , di rumah teman-teman dan rumah sanak famili dari keluarga besar orang tua Sukini, tidak ditemukan dan tidak ada keterangan dari semua orang yang telah dikunjungi oleh orang tua sukini.

Pagi, siang hari tetap dicari terus menerus keliling desa Sekaran dan desa sebelah (banjar omah njoboh). Dan ada warga yang memberi keterangan kepada orang tua Sukini kalau malam hari kemarin ia berjalan sendirian dan ngobrol dengan sebelahnya tetapi tidak ada orang disebelahnya dan berjalan terus menuju ke Rawa (Lak gedhe).

Orang tua Sukini kaget yang dipikirkan mereka adalah, yang membawa anaknya adalah wewegombel. Setelah mengetahui berita tersebut, diajaklah semua warga satu RT dengan para sanak family untuk mencari Sukini dengan membawa alat-alat dapur (seperti panci, wajan, sutil, sablug, dandang dan tutupnya ).

Setelah terkumpul warga dan alat-alat dapur, mulailah berkeliling mencari Sukini, para warga mencari dari sore sampai malam hari dengan membunyikan alat-alat memasak dan memanggil-manggil Sarimi di tempat-tempat yang ada bongkahan bambu (barongan) belakang desa, belakang rumah. Karena mitos yang diyakini apabila mencari orang yang hilang yang issunya dibawa oleh wewegombel yakni dengan membunyikan semua alat-alat dapur secara serentak dan beramai-ramai ditempat-tempat yang rimbun.

Ternyata ketika dicari di barongan belakang sawah ada suara anak , “hee,, aku nak kene loo, nak dhuwur pring” dengan wajah memelas. Dan ditemukanlah Sukini yang berada di bambu dengan posisi tidak bisa turun. Dan warga ramai senang terutama orang tua Sukini, ada yang langsung memanjat bambu untuk menurunkan Sukini.

Setelah turun ditanya oleh ibu Sarimi, kenapa ia berada di barongan belakang sawah. Dijawabnya, ia diajak ibu untuk kesawah. Dengan berjalan lama, menyeberangi rawa (Lak gedhe) dan makan ikan matang. Setelah bercerita, Sarimi pun dimandikan dengan air comberan. Tidak tahu kenapa, tetapi mitosnya apabila orang yang dibawa wewegombel harus dimandikan dengan air comberan agar tidak diganggu lagi oleh makhluk halus itu lagi.

*mitos boleh dipercaya dan boleh juga tidak dipercaya, tetapi alangkah baiknya apabila mempercayainya dilandasi dengan tetap ingat kepada Sang Pencipta.

>

PERIBAHASA JAWA

Sedikit saya utarakan tentang beberapa peribahasa Jawa atau biasa disebut dengan bebasan jawa atau unen-unen jawa adalah sebuah kalimat yang berisi sindiran, wejangan atau larangan didalamnya mengandung unsur-unsur filosofik jawa. Peribahasa jawa sebenarnya banyak mengandung ajaran yang selaras dengan kehidupan yang ada didalam cerminan diri orang jawa sehingga apabila kita mempelajarinya akan terketuk hati kita akan kebenarannya.

Dibawah ini ada 15 peribahasa atau bebasan jawa beserta arti yang dikandungnya:

1. Adigang, adigung, adiguna

= Ngendelake kakuwatane, kaluhurane, lan kapinterane.

(mengandalkan kekuatannya, derajatnya, dan kepandaiannya)

2. Anak polah, bapa kepradah

= Tingkah, polahe anak sing nanggung wong tua.

(tingkah lakunya anak, yang menanggung adalah orang tua)

3. Asu marani gepuk

= Njarag marani bebaya.

(berani untuk menghampiri bahaya)

4. Cebol nggayuh lintah

= Kekarepan kang bakal mokal kelakon.

(sebuah keinginan yang tidak mungkin akan tercapai)

5. Cedhak celeng boloten/ Cedhak kebo gupak

= Cedhak karo wong ala bakal katut ala.

(apabila dekat dengan orang berwatak buruk akan menjadi buruk pula)

6. Dhandhang diunenake kuntul, kuntul diunenake dhandhang

= Ala diunenake becik, becik diunenake ala.

(buruk dikatakan baik, baik dikatakan buruk)

7. Diwenehi ati ngraga rempela

= Wis diwenehi sethithik, malah njaluk kang luwih akeh.

(sudah dikasih sedikit, malahan mintak yang lebih lagi)

8. Emban cinde, emban siladan

= Wong kang ndueni sikap Ora adil.

9. Esuk dhele, sore tempe

= Wong kang ora tetep atine.

(orang yang tidak teguh pendiriannya)

10. Golek banyu bening

= Meguru golek kawruh sing becik.

(berguru untuk mencari ilmu yang baik atau berguna)

11. Idu didilat maneh

= Murungake janji sing wis diucapake

(mengingkari janji yang sudah diucapkan sendiri)

12. Kebanjiran segara madu

= nemu kebecikan kang gedhe banget.

(mendapatkan kebaikan atau keuntungan yang banyak sekali)

13. Naboh nyilih tangan

= Tumindak ala kanthi kongkonan wong liya.

(melakukan perbuatan dari suruhan orang lain)

14. Obah ngarep, kopet mburi

= Tumindakke panggedhe dadi panutane wong cilik.

(tindak-tanduknya penguasa akan menjadi panutan bagi rakyat kecil dibawahnya)

15. Yuyu rumpung mbarong ronge

= Omahe magrong-magrong nanging sejatine mlarat.

(rumahnya besar tetapi sejatinya hatinya sepi)

Demikianlah beberapa unen-unen jawa dan sebenarnya masih banyak lagi peribahasa lain yang bisa kita ambil hikmahnya dan kita aplikasikan di masyarakat, semoga bermanfaat bagi kehidupan kita kedepannya. Tetap lestarikan budaya jawa.

#Salam nguri-uri kabudayan jawi_ ‘’ghonim.. ^_^ #

Kamis, 03 Oktober 2013

Asal-usul cerita Aksara Jawa

ha na ca ra ka

Ana utusan (ada utusan)

da ta sa wa la

Padha kekerengan (saling berselisih pendapat)

pa dha ja ya nya

Padha digdayané (sama-sama sakti)

ma ga ba tha nga

Padha dadi bathangé (sama-sama mejadi mayat)

Aji saka adalah seorang pemuka dari Caka (india), awal mulanya datang ke Jawa karena ddengar berita bahwa di Jawa ada seorang raksasa yang sukanya memakan manusia, setelah sampai di Jawa Aji Saka bersama pengawalnya Dora dan Sembadra yang selalu setia. setelah tiba dihutan, Aji saka memiliki niat agar salah satu dari pengawalnya berdiam diri dan menjaga keris dari Aji Saka, rencana tersebut disetui sehingga sembadra tetap tinggal dikawasan hutan dengan syarat, keris akan diambil oleh Aji Saka sendiri selain Aji Saka yang meminta jangan pernah diberikan. Sembadrapun mematuhi titah dari tuannya. setelah lama dalam perjalanan ditemukanlah nagari yang keadaannya sepi sunyi. hal ini dikarenakan para penduduk di sana mati satu persatu karena dimakan oleh raksasa yang bernama Prabu Dewatacengkar, setelah di telusuri ternyata benar nagari yang sepi tersebut adalah tempat tujuan dari Aji Saka.

aji saka melawan raksasa dengan cara yang cerdik, yakni memancing Prabu Dewatacengkar dengan menyerahkan diri untuk dimakan. akan tetapi, sebelum meninggal Aji Saka meminta sebuah permintaan yakni Sebidang tanah seluas sorban Aji Saka. Dan Prabu Dewatacengkarpun tertawa dengan bangga karena melihat permintaan aneh dari Aji Saka dan ia pun menyetujuinya.

Setelah dibentangkan di tanah, toba-tiba sorban yang kecil berubah menjadi lebar dan semakin lebar, tercenganglah si Prabu Dewatacengkar dan terkibaslah ia ke laut dan wujud Prabu Dewatacengkar berubah menjadi buaya putih.

Aji Saka berhasil mengalahkan Raksasa Prabu Dewatacengkar dan diberi ganjaran wilayah Medhangkamulan menjadi milik Aji Saka. Setelah berhasil, Aji Saka teringat akan pengawalnya Sembadra yang menjaga keris di hutan, dan diperintahkanlah Dora untuk mengambil keris.

Lama tidak kembali akhirnya Aji Saka datang ke Hutan, dan ternyata Dora dan Sembadra telah menginggal karena masing-masing pengawal mempertahankan apa yang diamanahkan oleh Aji Saka yaitu,Dora tidak boleh kembali ke Medhangkamulan selagi tidak membawa keris. maka, terjadilah perkelahian hingga mereka berdua meninggal. dan muncullah huruf atau Aksara Jawa. ^_^

Rabu, 02 Oktober 2013

Pujangga Yasadipura I dan Yasadipura II

Yasadipura I dan Yasadipura II
----

1. Pendahuluan

Tantangan kehidupan sekarang tak saja harus mampu menjawab masalah-masalah ekonomi, politik dan hukum, tapi juga menyangkut budaya. Jadi di tengah kesibukan kita menghadapi masalah itu, juga harus memiliki ruang untuk membedah nilai-nilai budaya yang ditulis para pujangga, misalnya RNg Yasadipura. Karya pujangga sarat nilai yang memiliki makna untuk mencerahkan kehidupan. Sementara dalam mengarungi kehidupan yang semakin penuh persaingan kita perlu sosok pahlawan kebudayaan. Itulah pokok pikiran yang muncul dalam Seminar Nasional "Peran dan kedudukan pujangga Yasadipura dan karya-karyanya dalam perkembangan sastra Jawa".

Nama Ranggawarsita berasal dari kata rangga-warsita. Rangga berarti senapati, panglima, komandan pertempuran. Warsita adalah wacana, wejangan, pengetahuan hidup, episteme. Nama ini secara langsung menunjukkan bahwa para pemimpin tanah Jawa mengubah strategi peperangannya melawan kumpeni. Selepas peperangan fisik di perang Jawa/Dipanegara, maka peperangan dengan kumpeni berubah bentuk menjadi peperangan pengetahuan. Itulah sebabnya mengapa Mas Burham diberi gelar R Ng. Ranggawarsita, bukan Yasadipura III. Dan hal ini terbukti dengan bangkitnya semangat menuliskan kembali peninggalan pengetahuan Jawa. Bersamaan era atau masa dengan R Ng. Ranggawarsita adalah Kangjeng Gusti Pangeran Arya Adipati Mangkunegara IV (1809-81) dari Pura Mangkunegaran, Surakarta.

2. Raden Ngabehi Yasadipura I

Raden Ngabehi yasadipura I nama kecilnya adalah Bagus Banjar, putra Tumenggung Padmanegara bupati Pekalongan. Ayahnya masih keturunan Sultan Hadiwijaya Raja Pajang. Pendidikan yang ditempuh oleh R.Ng. Yasadipura I adalah Pesantren Hanggamayan magelang yang dipimpin oleh Kyai Honggomoyo.Raden Ngabehi Yasadipura I adalah pujangga Keraton Surakarta Hadiningrat yang menjabat di masa pemerintahan Susuhunan Pakubuwana II (1711-1749), Pakubuwana III (1749-1788) dan Pakubuwana IV (1788-1820) antara tahun 1743 hingga tahun 1803, kemudian jabatan pujangga dilanjutkan oleh putranya yaitu Raden Ngabehi Yasadipura II (1803-1844) hingga masa Pakubuwana VII dan kemudian jabatan pujangga dilanjutkan oleh R.Ng. Ranggawarsita.

3. Raden Ngabehi Yasadipura II

Yasadipura II lahir sekitar tahun 1760 dan merupakan putra pujangga Keraton Surakarta Hadiningrat yaitu Radn Ngabehi yasadipura I. Yasadipura II ini menjabat sebagai pujangga Keraton Surakarta Hadiningrat pada masa pemerintahan Pakubuwana IV (1788-1820), pakubuwana V (1820-1823), Pakubuwana VI (1823-1830) dan pakubuwana VII (1830-1858).
Yasadipura II diangkat sebagai pegawai Keraton Surakarta hadiningrat berpangkat panewu dengan nama Kyai Ranggawarsita I dan kemudian naik jabatan menjadi Kliwon dan bernama R.NG. Yasadipura II. Pada tahun 1803, pujangga kerajaan yaitu Yasadipura I meninggal dunia dan sebagai penggantinya maka diangkatlah R.Ng. Yasadipura II oleh pakubuwana IV dengan nama baru Raden Tumenggung Sastranegara.Yasadipura II sendiri merupakan keturunan dari Jaka Tingkir (Sultan Adiwijaya, Raja Pajang) yang dari silsilah keluarganya banyak melahirkan beberapa pujangga Jawa terkenal, seperti Yasadipura I (sang ayah) dan Raden Ngabehi Ranggawarsita (sang cucu). Setelah Yasadipura II menyelesaikan pendidikannya di Tegalsari ia kembali ke Surakarta dan mengabdi di Keraton, karirnya sebagai penulis mulai berkembang pada awal abad ke-19. Bersama-sama dengan ayahnya, Yasadipura mulai menulis beberapa Babad dan menerjemahkan beberapa karya Sastra Kuna.

4. Sejarah Perkembangan Karya sastra Yasadipura I dan Yasadipura II

Peran dan kedudukan pujangga Yasadipura I dan Yasadipura II dalam sejarah perkembangan kesusastraan jawa sangat penting, yakni sebagai tokoh simpul yang dapat menjembatani tradisi sastra pra-Islam dan perkembangankesusastraan jawa sesudanya (zaman Islam) yang sempat mengalami stagnan.
Karya- karya tersebut membuktikan bahwa Yasadipura I menguasai bahasa Jawa Kuna. Pada abad ke-19 para ahlu filologi Belanda yang tertarik pada bahasa dan sastra Jawa mengumpulkan manuskrip Jawa Kuna (Margana, 2004: 62). Para ahli tersebut amenerjemahkan manuskrip dengan bantuan informasi lokal, di antaranya adalah Yasadipura I. Akan tetapi, Yasadipura I tidak semata-mata menerjemahkan manuskrip tersebut. Teks-teks dalam manuskrip digubahnya menjadi karya baru. Dengan demikian, ia memeras otak mengolah dan memilih kata yang sesuai agar karya Jawa Kuno itu dapat dimengerti oleh masyarakat dengan tetap mengikuti kaidah tembang macapat.

Yasadipura II dikenal sebagai pujangga Keraton atau kaum literati yang kreatif, produktif, kritis, dan terkemuka pada zamannya. Hal tersebut tercermin dalam beberapa karyanya, seperti Dharmasunya, Arjunasasra, Wicarakeras, Sasanasunu, Bratasunu, Babad Giyanti, Sewaka, Anbiya, Iskandar Serat Centhini, dan masih banyak lagi karya-karya lainnya. Berbeda dengan ayahnya, Yasadipura I, asal-usul keberadaan Yasadipura II tidak terlalu banyak dapat diceritakan. Hal ini dikarenakan keterbatasan sumber dan banyaknya karya-karya Yasadipura II yang tidak diekspos atau hilang. Pada tahun 1826, Yasadipura II ditunjuk sebagai pejabat Bupati Carik Kadipaten. Ketika menjadi seorang pujangga, Yasadipura II mengabdi kepada tiga orang raja yang ketiga-tiganya dikenal sebagai pengayom sastra. Salah satu dari ketiga raja tersebut adalah Raja Pakubuwana V (1820-1828) yang memiliki tiga orang putra antara lain R. Ngabehi Ranggawarsita II, Mas Haji Ranggasmita (keduanya nanti diasingkan oleh Belanda pada tahun 1828, karena dianggap bersekutu dengan Pakubuwana IV melawan kompeni pada saat terjadi perang jawa yang terjadi pada kurun waktu 1825-1830), dan R. Ngabehi Hawikrama yang kelak bergelar Yasadipura III.

5. Karya Sastra Yasadipura I

Beberapa peneliti meragukan kemampuan Yasadipura I dalam penguasaan bahasa Jawa Kuno. Poerbatjaraka menunjukkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan Yasadipura I, yaitu pada saat menyadur Kakawin Bharatayuddha menjadi Serat Bratayuda terdapat kesalahan dalam pemenggalan kata sehingga muncul nama-nama baru (Poerbatjaraka dan Hadidjaja, 1952: 157—160). Namun, memahami kakawin dan menuangkanya kembalimenjadi karya sastra ke bentuk berbeda merupakan pekerjaan yang luar biasa. Seseorang yang tidak piawai dalam kesusasteraan Jawa tidak mungkin dapat melakukannya. Apalagi terbukti cerita dalam Kakawin Bharatayuddha tidak mengalami perubahan yang signifikan. Inti dari kepustakaan jawa pada zaman kerajaan Surakarta yang dibangun oleh Yasadipura I dan II,yakni membedakan antara karya Yasadipura I dengan Yasadipura II. Karya yang tercipta sesudah tahun 1801 bukan merupakan karya Yasadipura I, karena Yasadipura I wafat pada tahun 1801.

Adapun karya-karya pujangga yasadipura I dapat dibagi menjadi dua yaitu gubahan dan ciptaan. Karya sastra gubahan meliputi karya-karya yang lebih tua yaitu Arjuna Wiwaha Gubahan Macapat, Bratayuda Gubahan Macapat, Dewa runic Gubahan, Ramayana Gubahan Macapat, serat Ambiya Gubahan, Serat Menak Gubahan Macapat, Serat tajusalatin Gubahan Macapat. Karya sastra ciptaan meliputi Serat Cebolek, Babad Giyanti, Babat Prayut.

Kelebihan Pujangga Yasadipura I yakni :

a. Dia pandai membaca tulisan Arab dan paham akan isi teksnya sesuai pada keperluan masa itu.
b. Paham atas bahasa Jawa puisi (tembang macapat) dan prosa
c. Tokoh dan tempat yang diciptakan dalam cerita seolah-olah sungguh-sungguh terjadi
d. Pandai dan terampil dalam menggubah serat-serat baru dari sumber naskah-naskah kuna sesuai dengan kepentingan/keinginan masyarakat pada masanya. Masyarakat pada masanya menjadi berminat untuk membacanya.
e. Daya pikirnya tajam, tekun, dan teliti. Hal demikian dapat terlihat dari karyanya yang kronologi sruntut dan beberapa cukup tebal. Babad Giyanti jumlah halaman 1.702, Serat Menak jumlah halaman 3.760, dan Centhini 4.200 halaman

6. Karya Sastra Yasadipura II

Karya Yasadipura II mulai ditulis pada Januari 1814 sampai 1823. Tetapi setelah kematian ayahnya, Yasadipura II kemudian diangkat sebagai pujangga dan abdi dalem kerajaan. Ia semakin aktif menulis selama periode antara tahun 1810-1820an. Yasadipura II banyak bekerja sama dengan para pujangga lainnya, yakni dengan Kiai Ngabei Ranggasutrasna dan Kiai Ngabei Sastradipura. Ketiga anggota tim merupakan pegawai kepujanggaan di Kerajaan Surakarta. Kiai Ngabei Ranggasutrasna merupakan ahli bahasa dan sastra Jawa, beliau diberi tugas menjelajahi separuh Pulau Jawa sebelah timur, mulai dari Surakarta sampai Banyuwangi.

Kiai Ngabei Yasadipura II bertugas menjelajahi separuh Pulau Jawa sebelah barat, mulai dari Surakarta sampai Anyer. Segala yang mereka berdua lihat dan dengar harus dicatat, diingat-ingat, serta direkam dalam ingatan. Sedangkan kiai Sastradipura diberitugas naik Haji ke Mekah dan tinggal disana beberapa lama untuk memperdalam agama Islam, karena beliau ahli bahasa arab, tasawuf dan ahli agama. Setelah selesai menjelajah, mereka bertiga bertemu kembali di Kadipaten, Surakarta. Barulah serat Centhini dibuat.

Dari beribu-ribu naskah, naskah Centhini merupakan naskah yang baik dari ketebalannya maupun kandungan isi teksnya mempunyai keistimewaan. Kandungan isi teks Centhini sangat beragam, meliputi; sejarah, pendidikan (prenatal dan postnatal), geografi, arsitektur, pengetahuanalam, falsafah, agama, tasawuf, mistik, dan sebagainya. Karena kandungan isi teksnya banyak maka Centhini sering disebut Ensiklopedi Kebudayaan Jawa, yaitu tentang segala ilmu yang terdapat dimuka bumi Pulau Jawa, bukan yang terdapat di Benua-benua lain.