Pengunjung

Minggu, 23 Februari 2014

Banjaran Karna

Sedikit menyinggung tentang cerita wayang yakni tokoh yang dari lahir hingga meninggalnya beliau selalu mendapatkan penderitaan dihidupnya akan tetapi perlu kita teladani perjuangan, kebaikan hatinya yang hingga sekarang masih axis namanya dan patut untuk diteladani sifatnya. Beliau adalah Karna.

Karna merupakan anak yang sebenarnya tidak diinginkan oleh Dewi Kunthi. Singkatnya cerita pada zaman dahulu setiap wanita titisan dewa memiliki kekuatan untuk memanggil dewa dan saat Dewi Kunthi mandi, beliau mencoba ajian dengan memanggil Dewa Surya. Dan terjadilah hal yang tidak diinginkan, Setelah kejadian tersebut kembalilah Dewa Surya dan hingga mengandung pula Dewi Kunthi. Tetapi setelah kandungannya berumur 9 bulan, banyak gunjingan dari para sanak family karena hakikatnya apabila dinalar Dewi Kunthi tersebut dikira hamil tanpa suami yang sah (karena yang menghamili adalah Dewa) sehingga Dewa mengabulkan do’a Dewi Kunthi dengan lahirnya Karna lewat telinga bukan lewat alat yang biasanya wanita melahirkan hal ini terjadi untuk menutupi aib Dewi Kunthi dengan menjaga keperawanan beliau.

Nama Karna sebenarnya diambil ketika kelahiran Karna melewati telinga. Bisa kita bayangkan bagaimana sakitnya dilahirkan melalui lubang telinga yang sangat kecil. Setelah lahir, Karna dimasukkan kedalam peti dan dihanyutkan oleh ibunya sendiri ke sungai, begitu teganya Dewi Kunthi terhadap titisan Dewa yang tidak bersalah dibuang ke sungai. Sehingga anak yang seharusnya berkasta Brahmana, ia lahir dan berubah kodratnya menjadi anak yang berkasta paling rendah yakni sudra. Setelah dihanyutkan oleh ibunya, Karna ditemukan oleh pengembala kuda raja yang tak lain adalah… karna dibesarkan oleh cantrik kuda tersebut hingga dewasa, Karna yang sangat tabah dan pandai dalam bermain panah. Pada suatu ketika ada lomba memanah diantara para kesatriya dan beliau mengikuti lomba hingga memenangkan perlombaan tersebut sehingga kastanya naik menjadi Ksatriya.

Sebagai titisan Dewa/ putra dari Dewa Surya, Karna memiliki senjata istimewa berupa tameng di dadanya yang apabila diserang atau dibunuh beliau tidak akan bisa meninggal.

Hingga ketika akan terjadi perang batarayudha, Dewa Arya (ayah raden Arjuna) mengetahui bahwa lawan anaknya adalah Karna, Dewa Arya berubah wujud menjadi Brahmana dan meminta senjata tameng milik Karna. Sehingga ketika perang, Karna meninggal ditangan saudara tirinya sendiri yakni Arjuna (anak Dewi Kunthi dengan Dewa Arya). Dan kematian Karna tersebut sebenarnya sudah direncanakan oleh ibunya sendiri (Dewi Kunthi) Arjuna yang tak lain adalah saudara tiri Karna membunuh Karna. Dan dengan besar hati saat peperangan BataraYudha Karna mempersilahkan agar Arjuna membunuhnya, karena apabila Arjuna meninggal semua yang ada didunia termasuk Ibunda Kunthi akan sangat sedih sehingga Karna memutuskan untuk dibunuh Arjuna agar tidak ada yang berduka atas peperangan tersebut (termasuk Dewi Kunthi).

Demikian Banjaran Karna, cerita tersebut sebenarnya sejak dahulu zaman nabi Musa yang dihanyutkan ke sungai dan juga Nabi Isa yang dilairkan tanpa ayah dan di masyarakat Jawa disadur dengan memasukkan cerita nabi kedalam cerita wayang dan dikemas sedemikian rupa sesuai dengan budaya Jawa.

Semoga cerita tersebut membawa manfaat kepada kita semua dan bisa menjadi inspirasi untuk melangkah kedepan dan menjadikan kita semakin taqwa kepadaNya dengan semua kebesaranNya...

Makna Filosofis Dalam Tembang Macapat

Tembang Macapat merupakan salah satu makanan pokok yang harus dikuasai oleh mahasiswa Jurusan Sastra Daerah karena Tembang Jawa atau Nyanyian Jawa merupakan salah satu roh budaya Jawa yang adiluhung yang harus dilestarikan kepada generasi yang akan datang. Pengertian dari Tembang cilik (sekar alit) atau sekar macapat yakni sebuah nyanyian tradisional Jawa yang didalamnya masih terikat dengan aturan-aturan guru swara (dhong-dhing jatuhnya di akhir baris) dan guru wilangan (jumlah suku kata setiap barisnya).

Secara umum jumlah dari tembang macapat ada 11 macam yakni, Mijil, Maskumambang, Sinom, Asmaradana, Kinanthi, Dhandhaggula, Durma, Gambuh, Pangkur, Megatruh, dan Pocung.

Sebelas tembang macapat ini sebenarnya jika dilihat dari makna filosofisnya memiliki makna yang saling berkesinambungan yakni ada unsur terbentuknya manusia di dunia, manusia berkembang hingga meninggalnya manusiapun tergambarkan dalam tembang macapat Jawa tersebut.

Kali ini, akan saya sedikit uraikan makna filosofis yang terkandung dalam tembang Jawa yang adiluhung ini, yakni:

1. Mijil, yaitu memiliki makna tentang gambaran kelahiran manusia “bayi” di dunia (mijil= muncul). Sifat atau wataknya yakni “prihatin” karena dalam mengandung, orang tua memiliki keprihatinan agar bayi yang nantinya akan lahir diberi keselamatan sewaktu dilahirkan sehingga senantiasa dipanjatkan do’a untuk calon bayi.

2. Maskumambang, yaitu memiliki makna tentang gambaran masa anak-anak yang menyenangkan bagaikan “emas” karena anak yang lahir merupakan kebahagiaan digambarkan sebagai emas bagi orang tuanya.

3. Sinom, yaitu memiliki makna tentang gambaran masa remaja. Wataknya “grapyak”. Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri sehingga mereka supel, diharapkan mudah bergaul.

tersebut. 4. Kinanthi, yaitu memiliki makna tentang gambaran masa hidup mulai berumah tangga wataknya “senang, bersatu, kasih sayang” hal ini karena masa dimana manusia mengarungi bahtera rumah tangga dengan pasangannya.

5. Dhandhanggula, yaitu memiliki makna tentang gambaran penggambaran pernikahan awal yang penuh perasaan “manis” (gula=manis). Watak yang ada didalamnya yakni senang, bersatu rukun antar tetangga dan lingkungan yang baru.

6. Durma, yaitu memiliki makna tentang gambaran masa tua telah datang dan mengesampingkan sifat ma-lima (larangan agama). Yakni Maling, madon (zinah), main (judi), mangan (barang haram) lan minum (minuman keras).

7. Gambuh, yaitu memiliki makna tentang gambaran kematangan jiwa, wataknya “menyatu” karena masa ini adalah masa dimana senang dalam memberi nasihat, petuah kepada anak, cucu tentang pelajaran hidup didunia.

8.Pangkur, yaitu memiliki makna tentang gambaran masa usia lanjut yang akan mungkur (pergi). Dimasa ini banyak mengesampingkan masalah duniawi dan lebih haus akan masalah kerohanian.wataknya “semangat perwira” maksudnya semangat dalam melawan hawa nafsu.

9.Megantruh, yaitu memiliki makna tentang gambaran masa kematian, dimana terjadi pemisahan roh dengan jasad (badan). Wataknya “sedih, kecewa” hal ini yang dirasakan oleh keluarga yang ditinggalkan nantinya.

10.Pocung, yaitu memiliki makna tentang gambaran sewaktu jasad mulai di kafani (pocung= dipocongi). Watak tembangnya “seenaknya” karena orang yang telah meninggal akan lupa segalanya, dan tidurnya seenaknya tergantung sanak keluarganya saat menguburkannya.

Demikian makna filosofis yang terkandung dalam Jembang Jawa. Sebenarnya melalui tembang ini telah diperlihatkan bagaimana kehidupan di dunia, sehingga kita bisa belajar, mengambil pelajaran dari kehidupan di dunia dan senantiasa bersyukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat dan ridho yang telah diberikan-Nya kepada kita sebagai mahluk yang lemah dihadapan-Nya.

“Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq…”

*@ghoniem_

Rabu, 19 Februari 2014

Estetika Resepsi

Resepsi berasal dari bahasa latin yaitu recipere yang diartikan sebagai penerimaan atau penyambutan pembaca. Dalam arti luas resepsi diartikan sebagai pengolahan teks, cara-cara pemberian makna terhadap karya, sehingga dapat memberikan respon terhadapnya. Respon yang dimaksudkan yang tidak dilakukan antara karya dengan seorang pembaca sebagai proses sejarah, pembaca dalam periode tertentu.

Resepsi sastra merupakan aliran sastra yang meneliti teks sastra dengan mempertimbangkan pembaca selaku pemberi sambutan atau tanggapan. Dalam memberikan sambutan dan tanggapan tentunya dipengaruhi oleh faktor ruang, waktu dan golongan sosial.

Menurut Pradopo (2007: 218) yang dimaksud resepsi adalah ilmu keindahan yang didasarkan pada tanggapan-tanggapan pembaca terhadap karya sastra. (Teeuw dalam Pradopo 2007: 207) menegaskan bahwa resepsi termasuk dalam orientasi pragmatik. Karya sastra sangat erat dengan pembaca, karena karya ditujukan kepada kepentingan pembaca sebagai penikmat karya sastra. Selain itu, pembaca juga yang menentukan dan nilai dari karya sastra, sehingga karya sastra mempunyai nilai karena ada pembaca yang memberikan nilai.

Resepsi sastra secara singkat dapat disebut sebagai aliran yang meneliti teks sastra dengan bertitik tolak pada pembaca yang memberikan reaksi atau tanggapan terhadap teks sastra itu (Siti Chamamah dkk, 2001: 108). Resepsi sastra secara singkat dapat disebut dengan tanggapan pembaca terhadap suatu karya sastra. Pengertian terhadap “tanggapan pembaca” mengandung konsep: 1) konsep tentang tidak menanggapi karya sastra dan 2) konsep tentang pembaca. Konsep “tanggapan” memperlihatkan adanya aktivitas pembaca dalam menerima karya sastra. Apabila tanggapan pembaca berbeda, wujud karya sebagai obyek estetikpun berbeda pula. Pembaca memberikan tanggapan atau sambutan terhadap karya sastra, adalah berkat adanya sentuhan estetis dari karya sastra itu (Siti Chamamah, dkk, 2001: 138).

Resepsi sastra dimaksudkan bagaimana pembaca memberikan makna terhadap karya sastra yang dibacanya, sehingga timbul reaksiataupun tanggapan mengenai karya sastra tersebut, tanggapan tersebut dapat bersifat pasif, bagaimana pembaca dapat memahami atau melihat hakikat estehtika yang ada dalam karya sastra itu. Mungkin juga dapat bersifat aktif, bagaimana pembaca dapat merealisasikannya. Pengertian resepsi sastra mempunyai lapangan yang luas, dengan berbagai kemungkinan penggunaan (Umar Junus, 1985:1).

Menurut seorang tokoh estetika resepsi, Jauss menilai suatu karya sastra terletak pada bertemu atau tidaknya karya dengan horizon pengharapan masyarakat pada saat karya ditulis. Ada tiga horizon harapan, yaitu: 1) horizon jaman, yakni kapan karya ditulis. 2) horizon naskah, yakni semua karya hendaknya menyerupai satu naskah standar (Umar Junus, 1985:33)

*Semoga Bermanfaat*

Touring HMJ PANDAWA

jum'at 06 februari 2014

Bertepatan padaawal masuk perkuliahan HMj PANDAWA melaksanakan acara touring bareng dan sekaligus pembubaran acara MUNAS IMBASADI di UNS yang ke-19, berangkat pada jam 08.00 WIB dan berkumpul didepan halaman FSSR UNS dengan mengendarai 2 Bis beranggotakan 74 orang berangkatlah menuju Pantai Drini yang lokasinya lumayan jauh dari kota Solo wilayah Gunung kidul Jawa Tengah. dengan perjalanan kurang lebih dua jam setengah sampailah ketujuan.

Pantai yang masih sejuk dan bersih belum tersentuh oleh tanggan-tangan jahil menambah semangat para anggota HMJ PANDAWA untuk menuju ke air, ada yang makan, bersantai dan ada pula yang berfoto-foto mengambil jepretan untuk diabadikan gambarnya.

Setelah puas bersenang-senang dengan pantai, mulailah dengan evaluasi kegiatan, penyusunan proker HMJ PANDAWA periode 2013-2014 serta pembubaran kepanitiaan MUNAS IMBASADI.

Seusai pembubaran kepanitiaan, para anggota HMJ PANDAWA melaksanakan ibadah bagi yang muslim dan segeralah pindah ke Pusat Oleh-oleh Yogjakarta.

Setelah puas berbelanja dilanjutkan perjalanan menuju Malioboro. Di Malioboro nuansanya sangat berbeda saat dimalam hari. suasana gemerlapan lampu, lalu lalang kendaraan serta keindahan para pedagang yang sedang mencari nafkah serta tempat-tempat bersejarah disana menambah keestetikahan hati kami.

* Semoga apa yang kita dapatkan akan membawa manfaat kedepannya.. Amin
-HMJ PANDAWA-