Sedikit menyinggung tentang cerita wayang yakni tokoh yang dari lahir hingga meninggalnya beliau selalu mendapatkan penderitaan dihidupnya akan tetapi perlu kita teladani perjuangan, kebaikan hatinya yang hingga sekarang masih axis namanya dan patut untuk diteladani sifatnya. Beliau adalah Karna.
Karna merupakan anak yang sebenarnya tidak diinginkan oleh Dewi Kunthi. Singkatnya cerita pada zaman dahulu setiap wanita titisan dewa memiliki kekuatan untuk memanggil dewa dan saat Dewi Kunthi mandi, beliau mencoba ajian dengan memanggil Dewa Surya. Dan terjadilah hal yang tidak diinginkan, Setelah kejadian tersebut kembalilah Dewa Surya dan hingga mengandung pula Dewi Kunthi. Tetapi setelah kandungannya berumur 9 bulan, banyak gunjingan dari para sanak family karena hakikatnya apabila dinalar Dewi Kunthi tersebut dikira hamil tanpa suami yang sah (karena yang menghamili adalah Dewa) sehingga Dewa mengabulkan do’a Dewi Kunthi dengan lahirnya Karna lewat telinga bukan lewat alat yang biasanya wanita melahirkan hal ini terjadi untuk menutupi aib Dewi Kunthi dengan menjaga keperawanan beliau.
Nama Karna sebenarnya diambil ketika kelahiran Karna melewati telinga. Bisa kita bayangkan bagaimana sakitnya dilahirkan melalui lubang telinga yang sangat kecil. Setelah lahir, Karna dimasukkan kedalam peti dan dihanyutkan oleh ibunya sendiri ke sungai, begitu teganya Dewi Kunthi terhadap titisan Dewa yang tidak bersalah dibuang ke sungai. Sehingga anak yang seharusnya berkasta Brahmana, ia lahir dan berubah kodratnya menjadi anak yang berkasta paling rendah yakni sudra. Setelah dihanyutkan oleh ibunya, Karna ditemukan oleh pengembala kuda raja yang tak lain adalah… karna dibesarkan oleh cantrik kuda tersebut hingga dewasa, Karna yang sangat tabah dan pandai dalam bermain panah. Pada suatu ketika ada lomba memanah diantara para kesatriya dan beliau mengikuti lomba hingga memenangkan perlombaan tersebut sehingga kastanya naik menjadi Ksatriya.
Sebagai titisan Dewa/ putra dari Dewa Surya, Karna memiliki senjata istimewa berupa tameng di dadanya yang apabila diserang atau dibunuh beliau tidak akan bisa meninggal.
Hingga ketika akan terjadi perang batarayudha, Dewa Arya (ayah raden Arjuna) mengetahui bahwa lawan anaknya adalah Karna, Dewa Arya berubah wujud menjadi Brahmana dan meminta senjata tameng milik Karna. Sehingga ketika perang, Karna meninggal ditangan saudara tirinya sendiri yakni Arjuna (anak Dewi Kunthi dengan Dewa Arya). Dan kematian Karna tersebut sebenarnya sudah direncanakan oleh ibunya sendiri (Dewi Kunthi) Arjuna yang tak lain adalah saudara tiri Karna membunuh Karna. Dan dengan besar hati saat peperangan BataraYudha Karna mempersilahkan agar Arjuna membunuhnya, karena apabila Arjuna meninggal semua yang ada didunia termasuk Ibunda Kunthi akan sangat sedih sehingga Karna memutuskan untuk dibunuh Arjuna agar tidak ada yang berduka atas peperangan tersebut (termasuk Dewi Kunthi).
Demikian Banjaran Karna, cerita tersebut sebenarnya sejak dahulu zaman nabi Musa yang dihanyutkan ke sungai dan juga Nabi Isa yang dilairkan tanpa ayah dan di masyarakat Jawa disadur dengan memasukkan cerita nabi kedalam cerita wayang dan dikemas sedemikian rupa sesuai dengan budaya Jawa.
Semoga cerita tersebut membawa manfaat kepada kita semua dan bisa menjadi inspirasi untuk melangkah kedepan dan menjadikan kita semakin taqwa kepadaNya dengan semua kebesaranNya...



