Pengunjung

Rabu, 19 Februari 2014

Estetika Resepsi

Resepsi berasal dari bahasa latin yaitu recipere yang diartikan sebagai penerimaan atau penyambutan pembaca. Dalam arti luas resepsi diartikan sebagai pengolahan teks, cara-cara pemberian makna terhadap karya, sehingga dapat memberikan respon terhadapnya. Respon yang dimaksudkan yang tidak dilakukan antara karya dengan seorang pembaca sebagai proses sejarah, pembaca dalam periode tertentu.

Resepsi sastra merupakan aliran sastra yang meneliti teks sastra dengan mempertimbangkan pembaca selaku pemberi sambutan atau tanggapan. Dalam memberikan sambutan dan tanggapan tentunya dipengaruhi oleh faktor ruang, waktu dan golongan sosial.

Menurut Pradopo (2007: 218) yang dimaksud resepsi adalah ilmu keindahan yang didasarkan pada tanggapan-tanggapan pembaca terhadap karya sastra. (Teeuw dalam Pradopo 2007: 207) menegaskan bahwa resepsi termasuk dalam orientasi pragmatik. Karya sastra sangat erat dengan pembaca, karena karya ditujukan kepada kepentingan pembaca sebagai penikmat karya sastra. Selain itu, pembaca juga yang menentukan dan nilai dari karya sastra, sehingga karya sastra mempunyai nilai karena ada pembaca yang memberikan nilai.

Resepsi sastra secara singkat dapat disebut sebagai aliran yang meneliti teks sastra dengan bertitik tolak pada pembaca yang memberikan reaksi atau tanggapan terhadap teks sastra itu (Siti Chamamah dkk, 2001: 108). Resepsi sastra secara singkat dapat disebut dengan tanggapan pembaca terhadap suatu karya sastra. Pengertian terhadap “tanggapan pembaca” mengandung konsep: 1) konsep tentang tidak menanggapi karya sastra dan 2) konsep tentang pembaca. Konsep “tanggapan” memperlihatkan adanya aktivitas pembaca dalam menerima karya sastra. Apabila tanggapan pembaca berbeda, wujud karya sebagai obyek estetikpun berbeda pula. Pembaca memberikan tanggapan atau sambutan terhadap karya sastra, adalah berkat adanya sentuhan estetis dari karya sastra itu (Siti Chamamah, dkk, 2001: 138).

Resepsi sastra dimaksudkan bagaimana pembaca memberikan makna terhadap karya sastra yang dibacanya, sehingga timbul reaksiataupun tanggapan mengenai karya sastra tersebut, tanggapan tersebut dapat bersifat pasif, bagaimana pembaca dapat memahami atau melihat hakikat estehtika yang ada dalam karya sastra itu. Mungkin juga dapat bersifat aktif, bagaimana pembaca dapat merealisasikannya. Pengertian resepsi sastra mempunyai lapangan yang luas, dengan berbagai kemungkinan penggunaan (Umar Junus, 1985:1).

Menurut seorang tokoh estetika resepsi, Jauss menilai suatu karya sastra terletak pada bertemu atau tidaknya karya dengan horizon pengharapan masyarakat pada saat karya ditulis. Ada tiga horizon harapan, yaitu: 1) horizon jaman, yakni kapan karya ditulis. 2) horizon naskah, yakni semua karya hendaknya menyerupai satu naskah standar (Umar Junus, 1985:33)

*Semoga Bermanfaat*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar