Pengunjung

Sabtu, 19 Oktober 2013

Foklor “Wewe Gombel”

Di desa Suka Maju Kecamatan Suka Mundur Kabupaten Makmur, 60 tahun yang lalu ada seorang anak bernama Sukini yang berusia sekitar 12 tahun. Ia adalah anak ruju dari bapak Kartasan dan ibu Sarimi. Ibu dan bapak dari Sukini adalah seorang petani yang setiap hari bekerja giliran disawah belakang desa dan didesa sebelah (banjar omah njoboh).

Pada suatu malam, disaat ibu Sarimi dan pak Kartasan akan pergi ke sawah di belakang desa untuk jaga sawah agar tidak dimakan tikus, Sukini telah diberi pesan apabila ibu dan bapaknya belum pulang kerumah, ia tidak boleh untuk keluar rumah dan sukini pun mengangguk tanda mengerti dengan apa yang dikatakan oleh ibu dan bapaknya. Setelah satu jam kemudian, tidak disangka ibunya Sukini kembali pulang kerumah sendirian dengan alasan akan mengajak Sukini ke sawah belakang desa, Sukini pun kaget mendengarnya karena tidak biasanya ibunya mengajak Sukini untuk pergi kesawah malam hari.

Tidak disangka karena sebenarnya yang kembali kerumah adalah wewegombel yang menampakkan diri (ngembo) sebagai ibu dari Sukini. Wewe tersebut mengajak pergi Sukini dengan berjalan terus selama kurang lebih 2 jam. Sukini pun bertanya terus kepada wewe karena sebenarnya jarak antara rumah dengan sawah belakang rumah jaraknya tidak terlalu jauh dan jawab dari wewe tersebut “hus, menengo engko lak teko panggone to nduk”. Sukini menurut kepada wewe yang berwujud seperti ibunya itu. Dan dalam perjalanan ada orang yang melihat Sukini berjalan sendiri dan tidak melihat wewe yang menyerupai ibu Sarimi disebelahnya.

Setelah lama berjalan, Sukini diajak menyeberangi Rawa yang kedalamannya mencapai 7 meter tetapi tidak ada perahu didaerah tepi Rawa (Lak gedhe), sehingga wewe tersebut menyuruh sukini untuk menutup matanya dan tidak boleh membuka mata selagi belum disuruh oleh wewe tersebut.

Ternyata, ketika menutup mata sukini menyeberangi Rawa dengan cara disembunyikan wewe dibalik payudaranya sehingga Sukini dengan tidak sengaja berjalan diatas air rawa yang sejatinya tidak bisa dilihat dengan kasat mata.

Dalam perjalanannya, Sukini selalu bertanya kepada wewe tentang kelanjutan cerita yang biasanya diberikan oleh ibu Sarimi tentang wewegombel yang suka mengganggu dimalam hari, ketika sukini bertanya, raut muka wewe langsung berubah menjadi marah. Sesampainya diseberang Rawa Sukini merasa lapar, disuruh duduklah dan wewe pun mengambil ikan di Rawa tanpa menggunakan alat. Sukini terheran-heran dengan apa yang dilihatnya, ibu yang dikenalnya bisa untuk menangkap ikan dengan disuruh untuk mengucapkan “yang aying adeng ngowo” selama 5x dengan menutup mata ikan tersebut telah tersaji matang. Sukini pun heran tapi tidak dirasa karena perutnya lapar dan dimakan saja ikannya.

Sesampainya ibu dan bapak sukini dirumah ternyata dilihat Sukini tidak ada, dicari seketika itu karena semalam suntuk Sukini tidak pulang kerumah. Ibu Sarimin dan bapak Kartasan mencari di tempat biasanya ia bermain , di rumah teman-teman dan rumah sanak famili dari keluarga besar orang tua Sukini, tidak ditemukan dan tidak ada keterangan dari semua orang yang telah dikunjungi oleh orang tua sukini.

Pagi, siang hari tetap dicari terus menerus keliling desa Sekaran dan desa sebelah (banjar omah njoboh). Dan ada warga yang memberi keterangan kepada orang tua Sukini kalau malam hari kemarin ia berjalan sendirian dan ngobrol dengan sebelahnya tetapi tidak ada orang disebelahnya dan berjalan terus menuju ke Rawa (Lak gedhe).

Orang tua Sukini kaget yang dipikirkan mereka adalah, yang membawa anaknya adalah wewegombel. Setelah mengetahui berita tersebut, diajaklah semua warga satu RT dengan para sanak family untuk mencari Sukini dengan membawa alat-alat dapur (seperti panci, wajan, sutil, sablug, dandang dan tutupnya ).

Setelah terkumpul warga dan alat-alat dapur, mulailah berkeliling mencari Sukini, para warga mencari dari sore sampai malam hari dengan membunyikan alat-alat memasak dan memanggil-manggil Sarimi di tempat-tempat yang ada bongkahan bambu (barongan) belakang desa, belakang rumah. Karena mitos yang diyakini apabila mencari orang yang hilang yang issunya dibawa oleh wewegombel yakni dengan membunyikan semua alat-alat dapur secara serentak dan beramai-ramai ditempat-tempat yang rimbun.

Ternyata ketika dicari di barongan belakang sawah ada suara anak , “hee,, aku nak kene loo, nak dhuwur pring” dengan wajah memelas. Dan ditemukanlah Sukini yang berada di bambu dengan posisi tidak bisa turun. Dan warga ramai senang terutama orang tua Sukini, ada yang langsung memanjat bambu untuk menurunkan Sukini.

Setelah turun ditanya oleh ibu Sarimi, kenapa ia berada di barongan belakang sawah. Dijawabnya, ia diajak ibu untuk kesawah. Dengan berjalan lama, menyeberangi rawa (Lak gedhe) dan makan ikan matang. Setelah bercerita, Sarimi pun dimandikan dengan air comberan. Tidak tahu kenapa, tetapi mitosnya apabila orang yang dibawa wewegombel harus dimandikan dengan air comberan agar tidak diganggu lagi oleh makhluk halus itu lagi.

*mitos boleh dipercaya dan boleh juga tidak dipercaya, tetapi alangkah baiknya apabila mempercayainya dilandasi dengan tetap ingat kepada Sang Pencipta.

>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar