Apakah Rabu Wekasan itu?
Dalam budaya Jawa yang telah menganut ajaran Islam, talah dikenal yang namanya Rabu Wekasan atau Rabu Pungkasan yang pada tahun 2013 ini jatuh pada hari rabu tanggal 1 Januari 2014 (Tahun baru Masehi)/ 1435 Hijriyah.
Perlu kita ketahui sebagai umat islam terutama juga yang berkebudayaan Jawa bahwa, Rabu Wekasan adalah istilah yang dipergunakan untuk menamai hari rabu terakhir dibulan Shofar yang dijelaskan dalam hadist bahwa pada hari rabu tersebut Allah SWT akan menurunkan bala’ atau mala petaka (dalam istilah arab adalah arba’ Musta’mir) sebanyak 320.000 bala' yang akan disebarkan didunia.
Masyarakat jahiliyah kuno, termasuk bangsa Arab, sering mengatakan bahwa bulan Shafar adalah bulan sial. Tasa'um (anggapan sial) ini telah terkenal pada umat jahiliah dan sisa-sisanya masih ada di kalangkan muslimin hingga saat ini.
Salah satu hadist yang menjelaskan yakni HR. Bukhori dan Muslim yakni berisikan:
“Dari Abu Hurairah, Rasulullah r bersabda: “Tidak ada penyakit menular. Tidak ada kepercayaan datangnya sial dari bulan Shafar. Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati, rohnya menjadi burung yang terbang.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Ungkapan hadits laa ‘adwaa’ atau tidak ada penularan penyakit itu, bermaksud meluruskan keyakinan golongan jahiliyah, karena pada masa itu mereka berkeyakinan bahwa penyakit itu dapat menular dengan sendirinya, tanpa bersandar pada ketentuan dari takdir Allah.
Bagaimana hukumnya menunaikan shalat pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar?
hukumnya boleh,dalilnya adalah sebagai berikut:
A.sebagaimana yang tertulis dalam kitab Mujarabat dan tersebut di akhir bab 18.
فائدة أخرى: ذكر بعض العارفين – من أهل الكشف والتمكين – أنه ينزل في كل سنة ثلاثمائة وعشرون ألفا من البليات، وكل ذلك في يوم الأربعاء الأخير من شهر صفر، فيكون ذلك اليوم أصعب أيام السنة كلها، فمن صلّى في ذلك اليوم أربع ركعات إلخ
Artinya: Sebagian orang yang ma’rifat dari ahli kasyaf dan tamkin menyebutkan: setiap tahun, turun 320.000 cobaan. Semuanya itu pada hari Rabu akhir bulan Shafar, maka pada hari itu menjadi sulit-sulitnya hari di tahun tersebut. Barang siapa shalat di hari itu 4 rakaat dst.”.
B. dalil yang menenjukkan haram melakukan shalat lidaf'il bala'i di malam rebo wekasan tersebut tidak ada,baik yang langsung dari al qur'an maupun al hadits begitu juga menurut ulama' ulama' salaf.
C. shalat lidaf'il bala'i ini sudah istiqamah dilakukan oleh banyak para waliyullah dan para ulama' salaf.
Dalam (NU-1926) hadis tersebut: Dengan "keahlian dan kepintaran" orang-orang sekarang, fatwa Syeikh Hasyim Asy'ari tersebut sedikit "dipelintir" agar sesuai dengan jaman dan kebutuhan umat sekarang, yaitu dengan mengatakan bahwa "isitilah shalat rebo wekasan sebenarnya menunjuk pada shalat hajat atau shalat sunnah muthlaq, tetapi dilakukan pada malam rabu wekasan dengan memfokuskan do’a terhindar dari bala".
Entah apa maksud tujuan dari permainan kata-kata ini, apakah belum jelas fatwa Syeikh Hasyim Asy'ari ini ? Sehingga harus diistilahkan dengan sebutan lain. Agar umat yang mayoritas ini "paham" bahwa "sholat rebo wekasan adalah sholat yang disunahkan yang waktunya pas malam rebo wekasan".
Muktamar NU yang ketiga, menjawab pertanyaan “bolehkah berkeyakinan terhadap hari naas, misalnya hari ketiga atau hari keempat pada tiap-tiap bulan, sebagaimana tercantum dalam kitab Lathaiful Akbar” memilih pendapat yang tidak mempercayai hari naas dengan mengutip pandangan Syekh Ibnu Hajar al-Haitamy dalam Al-Fatawa al-Haditsiyah berikut ini:
“Barangsiapa bertanya tentang hari sial dan sebagainya untuk diikuti bukan untuk ditinggalkan dan memilih apa yang harus dikerjakan serta mengetahui keburukannya, semua itu merupakan perilaku orang Yahudi dan bukan petunjuk orang Islam yang bertawakal kepada Sang Maha Penciptanya, tidak berdasarkan hitung-hitungan dan terhadap Tuhannya selalu bertawakal. Dan apa yang dikutip tentang hari-hari nestapa dari sahabat Ali kw. Adalah batil dan dusta serta tidak ada dasarnya sama sekali, maka berhati-hatilah dari semua itu” (Ahkamul Fuqaha’, 2010: 54).
Maka dari itu, ketika Rabu Wekasan itu datang kita dianjurkan untuk berdiamdiri, berdzikir, ngaji, bersholawat serta memperbanyak amal agar kita terhindar oleh segala bala’ atau petaka yang disebutkan tadi. Dan pada hari Rabu wekasan tersebut bisa dipergunakan untuk membuat raja (asma’ Allah yang ditulis dalam kertas yang digunakan untuk obat) dan cara membuatnya dengan menuliskan Asma’ Allah dengan diiringi dzikir dan do’a kepada Allah, berniat untuk meminta pertolongan kepada Allah (pitulung mring Gusti).
Kutipan:
kitab Mujarabat
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,10-id,41663-lang,id-c,ubudiyyah-t,Penjelasan+Mengenai+Rebo+Wekasan-.phpx
http://www.nahimunkar.com/syaikh-hasyim-asyaari-ora-wenang-pituwah-ajak-ajak-lan-nglakoni-sholat-rebo-wekasan-lan-sholat-hadiah/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar